-laras Talking-
Sekali lagi Gue berhadapan dengan cermin rias di kamar gue untuk melihat pantulan diri gue sendiri.
"hhh... happy anniv Sayang" kata gue pada kaca rias seolah itu fajar.
"huuh! Gue kok jadi gugup gini sih?" gumam gue. Tiba tiba terdengar suara klakson motor.
Gue beralih ke jendela memastikan bahwa yang datang itu fajar.
Tepat! Bibir gue menyunggingkan senyum kecil. Gue raih tas tangan di
atas meja lalu bergegas turun ke bawah.
"hai..." sapa gue gugup sambil berjalan mendekati fajar.
"cantik!" ujarnya yang membuat gue merona.
"makasih..." sahut gue malu malu
"jalan sekarang?" tanya fajar seraya menyalakan mesin sportnya. Gue
mengangguk sebagai tanda setuju. Langkah gue mendekat ke belakang Fajar
lalu menaiki motor fajar.
"udah siap?" lagi lagi gue mengangguk. fajar tersenyum melajukan motornya meninggalkan halaman rumah gue.
"mau kemana jar?" tanya gue
"ntar juga loe tau" sahutnya sok rahasia.
Beberapa menit kemudian motor Fajar sudah terparkir di parkiran SMA
Persada. Dia menggandeng tangan gue lembut memasuki koridor sekolah.
"ngapain sih jar kita ke sekolah malam malam ?" tanya gue bete.
Gimana engga? Hari ini anniv satu tahun gue sama dia tapi Fajar malah
ngajak gue ke sekolah.
" Gue mau ajak loe ke atas gedung" jawabnya yang membuat gue heran.
Gue dan Fajar baru memasuki masa SMA walau baru awal semester. Kita
bersahabat sejak SD. Dulu ada gue, Fajar, Dicky dan Lala. Tapi
sekarang hanya tinggal gue, Dicky dan Fajar karna lala melanjutkan
sekolah di Jepang.
Fajar membuka pintu menuju atap gedung. Angin malam yang dingin
menyambut wajah gue. Fajar menggenggam erat tangan gue lalu membawanya
ke pagar pembatas. Ada sebuah meja juga dua buah kursi di sana. Serta
puluhan lampu yang meredup dan alunan musik mellow. Romantis.
"ini..." gue melepaskan genggaman Fajar dan melangkah maju menatap apa yang ada di hadapan gue.
"happy anniv laras" Fajar melingkarkan tangannya di perut gue dan menaruh dagunya di bahu kanan gue.
"eeh.. ngg.. happy anniv juga Fajar" kata gue sambil menggenggam erat tangan Fajar yang melingkar di perut gue
"kita dinner dulu yuk, abis itu ada yang mau gue kasi ke elo" fajar melepaskan pelukannya lalu menarik tangan gue.
Fajar menarik satu kursi untuk gue duduki.
"makasih ya" Fajar hanya tersenyum lalu duduk di depan gue
"kamu yang siapin ini semua?" tanya gue sambil melihat sekeliling
"buat hari ini dan buat loe" jawabnya yang membuat gue tersipu
Setenagah jam berlalu. Fajar menyilangkan sendok juga garpunya di ikuti gue.
" ooh ya, gue punya ini buat loe" fajar merogoh saku jasnya lalu
memperlihatkan sebuah gelang yang beberapa waktu lalu ingin gue beli
"ini kan..." gue menatap Fajar bingung
"buat loe, hadiah anniv kita" katanya di sertai senyum
" sini gue pakein" lanjut fajar. dia beranjak dari kursinya lalu
berjongkok di samping gue sambil memakaikan gelang putih berhiaskan
peri-peri kecil. gue tersenyum menatapnya.
"aku juga punya hadiah buat kamu" gue merogoh tas gue mencari
hanband berwarna merah. itu warna favorit Fajar dan dia anak basket,
pasti membutuhkan itu.
" buat gue?" tanyannya saat gue menyodorkan handband di tangan gue. gue mengangguk
"kalo pas kamu main basket" jelas gue. Fajar menatap gue lalu tersenyum
"thanks yaa, gue simpen ini pasti" gue mengangguk
mau dansa sama gue?" Fajar merubah posisinya menjadi berlutut di hadapan gue. tangan kananya terulur bermaksud mengajak gue
"ajarin ya tapi? aku ngga bisa" pinta gue yang di balas anggukan.
gue menerima uluran tangan Fajar lalu berdiri mengikutinya menjauhi
meja. Fajar meletakan tangan gue di lehernya dan dia meletakan tanganya
di pinggang gue
"kanan kiri aja ikutin langkah gue" ucap Bisma
lama gue berdansa dengan fajar. kini gue dan Fajar berdansa sambil
berpelukan. gue menyandarkan kepala gue di dada Fajar sementara Fajar mengusap rambut gue lembut dan sesekali menciumnya.
"Laras"
"hmm..." sahut gue
"ada yang mau gue omongin sama loe" ucap Fajar
"ya udah omongin aja,
aku dengerin kok " terdengar Fajar menarik nafas berat lalu...
"gue rasa hubungan kita cukup sampai di sini" perkataan Fajar sukses membuat gue mendongak menatapnya
"maksud kamu?" tanya gue kaget. lagi,Fajar menarik nafas berat
"kita putus" ucapnya lirih. seketika mata gue membola mendengarnya.
"apa? pu...tus???" Fajar menganggguk
"nggak! aku ngga mau! alu punya salah apa sama kamu jar " tanya gue lirih. Fajar menggeleng
"loe ngga salah apa-apa. tapi ini udah keputusan gue, besok sore gue
terbang ke Jerman, gue nerusin sekolah di sana dan kita ngga mungkin
LDR-an kaya gini" Fajar memegang ke dua pundak gue bermaksud menjelaskan
tapi, gue menghempaskannya kasar.
"ngga! aku ngga mau Fajar. aku bisa tungguin kamu sampai kamu balik
dan kita ngga akan pernah putus sampai saat itu" gue melepaskan kasar
tangan Fajar dan berlari menjauhinya sambil terisak
"Laras. laras" Fajar menatap lirih Punggung gue yang menjauh
"jangan tunggu gue, karna gue ngga tau apa gue bakal lagi atau
ngga"
***
"hati-hati bro, jaga kesehatan" Dicky menepuk-nepuk punggung Fajar.
sore ini gue dan Dicky mengantar kepergian fajar ke Jerman
"so pasti sob" fajar balik menepuk punggung Dicky lalu dia beralih
menatap gue yang terisak sedari tadi. Fajar memajukan langkahnya
sementara Dicky memalingkan wajahnya ke arah lain. ia tak mau membiarkan Bahtin,nya tersakiti lagi.
"hey, jangan nangis" Fajar menghapus airmata di pipi gue
"jangan pergi, jangan tinggalin aku" ucap gue lirih. Tanpa banyak bicara Fajar mendekap wajah gue di dadanya
"maaf... tapi, gue harus pergi. ini bukan kemauan gue" katanya yang semakin membuat gue terisak
"lupain gue dan loe ngga akan rasain sakit lagi" setelah berkata
begitu fajar mencium puncak kepala gue dan melepasnya. gue menunduk
menahan sakit mendengar perkataan Fajar.
"gue pergi" fajar meghapus airmata gue lalu menari kopernya menuju kabin pesawat.
"fajar.." lirih gue sementara itu Dicky merangkul gue dari samping
bermaksud menguatkan. tanpa banyak berkata lagi, gue menangis di dada
Dicky.
"FajarKu, dia... dia suruh gue lupain dia... gu...gue ngga bisa Ky :'("
"ssshhh.... udah yaa, lebih baik kita balik sekarang" ucap Dicky. dia berbalik membawa gue meninggalkan bandara Soekarno Hatta.
***
Tiga Tahun Kemudian
"Laras ada surat sayang" mama menghampiri gue di kamar
"surat dari siapa mah?" tanya gue sambil menatap fokus layar laptop
"ngg... dari fajar nih kayanya" mendadak loncat dari kasur menghampiri mama di ambang pintu
"Fajar mah?"tanya gue tak percaya. mama menganguk
"iya, ya udah nih mama mau masak lagi" mama menyerahkan sepucuk surat berwarna putih di tangannya lalu berlalu ke dapur
"Fajar?" gue tersenyum lalu menutup pintu rapat rapat. jemari gue
dengan lincah membuka surat di tangan gue. surat pertama dari Fajar
Dear Laras...
hey, apakabar loe? gue harap selalu baik oke :)
gimana dengan kuliah loe? udah berhasil masuk ITB?
Laras, gue bakal nerusin kuliah gue di Indonesia.
bareng loe dan Dicky pastinya. Besok gue balik, and
malamnya ngundang loe dan Dicky ke rumah gue.
hmm... empat tahun kita ngga ketemu, gue penasaran sama loe, masih cengeng? haha
oke, tunggu gue besok. gue punya kejutan buat loe sama Dicky
Fajar Surya
Gue melompat-lompat sambil memeluk surat kiriman Fajar.
"aaaa... Fajar, akhirnya ngga sia-sia aku nunggu kamu empat tahun
ini. aku kangen banget sama kamu jar" gue mencium surat dari Fajar lalu
beranjak meraih ponsel gue di meja belajar. jemari gue mulai mencari
kontak name Dicky. Setelah dapat, gue menekan tombol berwarna hijau.
"hallo Ky"
"...."
"Fajar Ky, Fajar pulang besok!" ucap gue antusias
"...."
"sumpah gue ngga bohong! dia ngasi tau gue lewat surat"
"...."
"oke sip besok kita jemput di bandara ya?"
"...."
"iya, bye" klik. telpon terputus. gue tersenyum meraih bingkai photo gue, fajar dan Dicky
"aku yakin kamu pasti kembali"
***
"fajaaaaaar" gue merentangkan tangan gue memeluk Fajar. dia tersenyum membalas rangkulan gue.
"hallo bro" Dicky menepuk pundak Fajar
"you know what guys? gue kangen banget sama loe semua"
"sok inggris loe" cibir Dicky
'bodo, suka suka gue" sahut Fajar sinis
"ish udah udah, kalian ini kalo ketemu pasti berantem. mending
sekarang kita ke rumah kamu, kamu juga cape kan Jar?" Fajar mengangguk
lalu merangkul pundak gue
"cape gila...." ucapnya yang lalu berjalan bersama gue meninggalkan Dicky
"saatnya masa bahagia loe berakhir Ky" gumam Dicky lalu menyusul langkah Gue dan Fajar
***
Gue menatap diri gue di cermin sekali lagi. memastikan bahwa penampilan gue kali ini udah sempurna untuk bertemu dengan fajar
"hhh udah siap :). kira kira Fajar punya kejutan apa yah buat gue sama Dicky?" batin gue bertanya-tanya
tiiinn tiinn tiiinn. suara klakson motor Dicky membuyarkan lamunan
gue. cepat cepat gue raih tas di meja rias dan setengah berlari gue
menghampiri Dicky di bawah.
"cantik! berangkat sekarang?" puji dan tanya Dicky
"makasih Ky, iya berangkat sekarang :)" gue berjalan ke belakang Dicky lalu menaiki jok motornya
"pegangan" gue mengangguk. perlahan motor sport Dicky mulai melaju meninggalkan halaman rumah gue.
Motor sport Dicky terparkir di halaman rumah Fajar. ternyata halaman
rumah Fajar sudah ramai dengan beberapa mobil dan motor. gue turun dari
motor Dicky dengan dahi berkerut.
"ada acara apa yah Ky?" Dicky menggeleng.
"masuk yuk" ajaknya lalu menggandeng tangan gue masuk.
Gue mengedarkan pandangan gue mencari cari sosok Fajar di tengah keramaian.
"Hey guys!" fajar menepuk bahu Dicky. Gue sontak menoleh takjub ke
arahnya. Malam ini Bisma terlihat keren sekali dengan stelan kaos putih
di balut jas hitam menambahkan karismanya
"Eeh elo, ada acara apa nih? Rame banget" tanya Dicky bingung
"Ooh iya gue lupa bilang sama loe berdua. Malam ini pesta
pertunangan gue dengan Jessica, pacar gue." Jelas Fajar yang sukses
membuat mata gue membola.
"Per...tunang...an??" Ucap gue terbata
Bisma mengangguk pasti.
"Bentar gue kenalin. Je, sini" Fajar mengibaskan tangannya pada
seorang gadis berambut hitam pekat yang tengah berbincang dengan tante Tama
"Iya kenapa Jar?" Tanyanya seraya tersenyum dengan gue dan Dicky
"Ini, aku mau kenalin kamu sama sahabat SMA aku. Ky,laras
ini Jeje tunangan gue, Je ini Dicky sama Laras yang kemarin
aku ceritain" gadis cantik itu mengangguk lalu tersenyum
"Aku Jesicca, tapi panggilnya Jeje aja. Seneng kenal sama kalian :)"
Jeje menjabat tangan Dicky lalu tangan gue. Pada saat menjabat tangan
gue, gue membaliknya melihat sebuah cincin platina putih telah melingkar
manis di jarinya.
"Ini cincin tunangan kalian?" Tanya gue yang di balas anggukan.
"Jadi..."Tanpa berkata apa apa, Dicky merangkul pundak gue bermaksud menguatkan.
"Selamat yaa bro, loe balik balik ngga taunya tunangan" Fajar terkekeh dan mengangguk
"Jar gue ngga bawa kado nih! gantinya gue nyanyi aja yah buat kalian. ngga papakan ? " kata gue kembali mengatakan loe-gue.
"Dengan senang hati gue bolehin" ucap Fajar. Gue tersenyum lalu berjalan meninggalkan Fajar, Dicky dan Jessica.
"Selamat malam semua, kali ini saya akan menyumbangkan sebuah lagu
untuk sahabat-sahabat saya yaitu Fajar dan Jessica. Selamat ya, semoga
kalian longlast sampai jenjang berikutnya" ucap gue sambil tersenyum.
Senyum miris pastinya.
Mengapa kita bertemu bila akhirnya di pisahkan
Mengapa kita berjumpa tapi akhirnya di jauhkan
kau bilang hatimu aku, nyatanya bukan untuk aku
bintang di langit nan indah dimanakah cinta yang dulu?
masihkah aku di sana di relung hati dan mimpimu
andaikan engkau di sini, andaikan tetap denganku
aku hancur ku terluka namun engkaulah nafasku
kau cintaku meski aku bukan di benakmu lagi
dan ku beruntung sempat memilikimu
Bintang di langit nan indah di manakah cinta yang dulu
Masihkah aku di sana, di relung hati dan mimpimu ooohh
Andaikan engkau di sini, andaikan tetap denganku
Aku hancur ku terluka namun engkaulah nafasku
Kau cintaku, meski aku bukan di benakmu lagi dan ku beruntung sempat memilikimu
Engkau mengatakan merindukan diriku lagi
Ingin ku sampaikan bukan hanya sekedar rindu
Wooo...ooohh...oooo..
Aku hancur ku terluka namun engkaulah nafasku
Kau cintaku meski aku bukan di benakmu lagi
Dan ku beruntung sempat memilikimu
Aku hancur ku terluka namun engkaulah nafasku
Kau cintaku meski aku bukan di benakmu lagi
Dan ku beruntung sempat memilikimu
Dan ku beruntung sempat memilikimu...
Gue menunduk memberi hormat pada para tamu undangan lalu beranjak turun menghampiri ajar, Dicky dan Jessica.
"laras loe masih..." Gue tersenyum menatap Fajar
"Sorry Jar, tapi gue janji akan hilangin perasaan ini. Makasih udah
buat gue nunggu dan makasih buat kejutannya. Sekali lagi selamat buat
kalian." Gue tersenyum pada Jessica lalu berlari keluar
"Laras,Laras.." Dicky berlari mengejar gue keluar.
"Sorry Laras, gue ngga pernah mikir loe masih punya rasa
sama gue padahal ini udah lewat empat tahun. Sorry kalo gue ngasih loe
harapan" batin Fajar
***
Dicky mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut jalan. Sesekali ia berlari sambil meneriaki nama Laras.
"Hhh.. Loe di mana sih ?" Gumam Dicky cemas. Dia kembali melangkah saat samar samar di dengarnya suara tangis.
"laras..."Ucap Dicky pelan. Dia melangkah mendekati gadis
yang terduduk di trotoar jalan sambil menutupi wajahnya. Dicky tersenyum
saat dia rasa itu memangLaras
"Udah ngga usah nangis" Dicky menaruh kepala gue di pundaknya. Membuat gue semakin terisak
"Gue bego Ky, bego ngarepin Fajar balik dengan perasaan yang sama!" Ucap gue terisak" Dicky tersenyum
"Loe ngga bego, loe itu tulus" kata Dicky. Dia mengangkat wajah gue lalu memberikan senyum.
"Belajar ikhlasin apa yang ngga mungkin loe milikin termasuk
cintanya Fajar. Cinta ngga selalu bisa memiliki, cukup loe liat dia
bahagia dengan cintanya sekarang itu baru namanya cinta. Cinta loe tulus
buat Fajar gue yakin loe bisa pelan pelan lepas dia karna loe mencintai
dia dengan hati Laras dan hati loe ngga buta" Dicky tersenyum
menghapus sisa sisa airmata di pipi gue
"Loe ngomong gampamg! Coba loe jadi gue dan rasain gimana sakitnya? Ngga akan bisa!" Dicky terkekeh kecil
"Gue rasain makanya gue bisa bilang ini. Apa loe pikir liat loe
selalu sama Fajar ngga nyesek? Liat loe nangisin Fajar apa ngga sakit?"
Gue terbelak mendengar penuturan Dicky. Tapi, dia justru tersenyum
"Tapi gue yakin, cinta gue ke elo ngga buta. Gue cukup bahagia bisa
deket sama loe walau hanya sebatas sahabat. Awalnya susah, tapi gue
yakin gue bisa. Dan gue bisa, karna gue biasa liat loe berduan sama
Bisma, biasa ngerasain sakit" ujar Dicky lirih
Gue menunduk merasa bersalah, jadi selama ini sejahat itu kah gue?
"Maaf..." Dicky menggeleng
"Cinta ngga pernah salah, gue ngga minta cinta sama low dan loe ngga
minta cinta sama Fajar. So, belajar memahami cinta itu sendiri" gue
mendongak menatap Dicky
"Gue belum paham apa itu cinta, jadi bisa bantu gue memahaminya?
Bantu gue melupakan dan mengerti cinta" Dicky menatap gue tak percaya
namun kemudian dia tersenyum
"Loe minta bantuan pada orang yang tepat!" Katanya seraya mencolek hidung gue
"Ish... Dicky!"
"Apa?" Sahut Dicky cuek
"Colek-colek hidung orang sembarangan!" Omel gue. Dicky terkekeh
"Udah malem, loe ngomel-ngomel mulu. Ayo pulang!" Dicky berjongkok di hadapan gue.
"Biarin, siapa suruh colek colek gue haa?!" Omel gue seraya menaiki pundak Dicky
"Hati gue yang nyuruh, kalo mau ngomel omelin hati gue aja" kata Dicky bercanda. Gue melotot lalu menjambak rambut Dicky kesal.
"Aaaa....iya..iya ampun laras aduuh rambut gue aaa.."
"Makanya! Rasain tuh!"
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar